Minggu, 15 Februari 2015

Dilema Ikhwan Agra




By: Dewi Agasshi


~~~***Ikhwan Agra***~~~

Malang, Minggu 1 Februari 2015
Pagi yang cerah, di teras rumah keluarga Hamidah tampak seorang pemuda tampan nan berkharima sedang duduk termenung, tanganya memegang mushaf Al Qur’an namun hanya di pegang.... tak dibaca, jangankan dibaca di bukapun tidak. Matanya hanya merawang entah memikirkan apa, yaaa pemuda ini adalah Jalaluddin Akbar sang Ikhwan Agra. Dia sangat tenggelam dengan pemikiranya sehingga tak menggubris kegaduhan yang ditimbulkan oleh adik dan juga istri tercintanya di dalam rumah...
Sedangkan didalam rumah, ternyata adik Jalal Dewi Bano (ehemmmm) sedang merayu kakak ipar baru-nya itu buat menemaninya jalan-jalan...
DW: “Ayolahhhh mbak, mumpung mbak sama mas Akbar masih di malang. Seminggu lagi kalian akan balik ke jakarta kan? Mau yaaaa nemenin aku.” Pasang wajah melas
JO” Memangnya kau mau kemana? Dan naik apa kita?.”
DW: “Mau Shopping dongggg... di Gramedia katanya ada buku baru yang buagus banget. Aku mau beli beberapa buku juga nanti kita mampir sebentar ke toko kitab langganan ummi, ummi butuh kitab baru tuh... iya ga miii.” Sedang cari dukungan.
Bu Hamida yang sedari tadi hanya duduk membaca buku mendongakkan kepalanya ketika namanya diikutkan dalam percakapan anak dan menantunya ini..
HB: “Hemm iya Jodha, kalau kamu hari ini ga kemana-mana sama Jalal kau bisa kan menemani adikmu itu. Ummi kebetulan juga butuh buku untuk bahan tambahan belajarnya anak-anak.” Hamida mengatakanya dengan nada lebut...
JO: “Baiklah bu, kalau begitu kami akan minta izin dulu sama mas Jalal, tapi dimana ya dia?.” Jodha baru ingat setelah dhuha tadi ia tak mengetahui dimana suaminya.
DW: “Yeyyyy Asyikkk... mas Akbar ada di teras tuh, yukkk kesana.”
Akhirnya Jodha dan adik iparnya melangkah menuju teras, tapi sebelum sampai di depan Jalal, Dewi menghentikan langkah Jodha sambil sedikit mengintip dari balik pintu, ia melihat mas bawelnya ini tumben-tumbenya ngelamun.. hal yang tak biasa bagi Jalaluddin Akbar untuk melamun, karena menurutnya itu hanya menyia-nyiakan waktu..
DW: “mas kok tumben bengong kayak mikirin utang semilyar gitu, kenapa mbak? Emang kalian lagi berantem ya?” tanya sang adik penuh selidik.
JO: “Heh sembarangan, enggak kok... tapi memang setelah pulang dari ngisi pengajian yang kamu rekomendasiin kemaren masmu jadi pendiem banget, biasanya kan bawel ngecuprus ini itu.”
DW: “Hemmm, ada apa ya? Mas juga ga cerita ma aku. Yoweslahh kita samperin aja yuk. Toh kita Cuma butuh izinya.. nanti mbak aja yang ngurus.”
Akhirnya tanpa buang waktu lagi mereka menemui Jalal...
DW: “Mass... napa mas kok ngelamun? Istrinya disini lohhh.. emang ngelamunin siapa sih?.” Komporinnnn panassss... hehehe
JA: “Sembarangan adek kalo ngomong.” Sambil lirik sang istri takut su’udhon, namun Jodha tak memberikan reaksi apapun karena tahu adiknya Cuma menggoda saja..(istri yang baik he he)
DW: “Nggeh sampun, mas adek ma mbak Jo minta izin yaa.. mau Jalan-Jalan berdua mumpung masih disini lagi weekend pula. Boleh ya masku yang ganteng.” Ngerayu ceritanya
Jalal hanya diam, dia menatap lekat wajah adiknya yang sama sekali tak mirip denganya, seandainya dia tak menjadi saksi hidup kelahiranya ia tak akan yakin kalau wanita yang ada didepanya ini adalah adiknya (wahhhhh.. mas kejammm ini, semprulll tenan)
DW: “Massss.. mas Akbar kok diam aja ditanyaiin? Mikirin apa sihh.” Agak khawatir
JA: “Gak apa-apa.. Cuma mas mau nanya... kamu tu kenal dari mana sih sama Ibu-Ibu GKM itu?... mas dibuat kewalahan tau sama materi kemaren yang mas sampein ke mereka, pertanyaan mereka jauh melampaui pengalaman mas dalam berumah tangga.” Matanya menari kebingungan.
DW: “Hah,, ehhh hemmm.. sebenernya tu aku diseret mas ama mereka... tapiii suwerrr dehhh adek masih waras kok.. makanya mas tak geret sekalian buat ngisi pengajian disana.. biar mereka lurusan dikit gitu.” (Bwhahahahahahahahaha....**ada yang protes*)
JA: “Bahasa planet merekaaa, Astaghfirulloh.... mas ga tahu deh.. pokoknya mas ga mau kesana lagi.. dan kamu, kalau bisa dibenerin tuh temen-temenya. Kalau yang membahas sesama wanita kan lebih leluasa, ajak Ummi sekalian.” Makin bingung tambah sewot, lirik istri ehhh malah nundukin kepala...
DW: “Iyaaa dehh iyaaaa Jo Hukum Shahenshah.. hehe, tapi boleh ya kita ke gramedia sekarang.”
JA: “Berdua aja?? Nggak.. nggakkk nggakkk.. mas ga ngijinin. Adek kudu bantuin mas hari ini, biar tenang, ga grusa grusu kayak gini.”
DW: “Apa??? Ahhhhh ga mau ahhhh.. kan yang punya masalah mas, bukanya adek.” Ikutan sewot
JO: “Iyaaaa mas, boleh ya mumpung kita masih disini, aku mau jalan-jalan juga sama ewi. Lagian Ummi juga nitip suruh beliin buku buat anak-anak” Jodha Mencoba meyakinkan.
JA: “Enggak, pesenan Ummi biar aku saja nanti yang beliin... adek ikut mas sekarang ke kamar sembahyang, ini juga sebagai hukuman buatmu karena bikin mas bingung kemaren.” Jalal Berbicara dengan nada memerintah... mendengar itu mau tak mau membuat dewi mengikuti Jalal masuk rumah lagi, walaupun dengan kekesalan. Ia segera mengambil air wudhu, karena tahu ‘Hukuman Apa’ yang akan diberikan oleh mas tercintanya ini... ya ia selalu disuruh menyimak murrojaah Jalal... biasanya dewi akan menerima hukuman ini dengan senang hati, karena selain bisa mendengar suara merdu kakaknya memang kegiatan inilah menjadikan kualitas waktu mereka bersama-sama terasa sangat membawa manfaat. Nmun khusus hari ini, ia sama sekali tak mau melakukanya, namun tak bisa menolak juga. Dalam rumah ini, kata-kata Jalal bak sabda raja yang wajib dipatuhi. Dan akhirnya disinilah mereka.. bertiga dengan Jodha, alih-alih jalan-jalan dewi malah tidur selonjoran di kaki kakanya sambil mengangkat mushaf tinggi.. menyimak bacaan sang kakak.
Surat pertama yang dibaca adalah.. Yaasiin, Ar Rahman, Al Waqi’ah dan sebelum juz 29 selesai adzan dhuhur telah menyeru mereka.. kegiatan ini dihentikan seketika, mereka mulai Sholat dan wiridan secukupnya.. setelah semua selesai Dwei kira hukumanya telah selesai, ternyata belum, siksaaan manis itu masih berlanjut ternyata... setelah Juz 29 selesai, Jalal lantas membaca surah Al-Imron... DEGGG... Jantung dewi serasa ada yang menariknya, dalam hati ia berkata..”kok mas baca surat ini? jangannn jangannnn..” saking tenggelamnya ia dalam pemikiranya dewi tak menyadari ia tak menyimak lagi sehingga hidungnya kena cubitan keras dari mas bawelnya..”Auchhh.. ahh iyaaa iyaa ini disimak kokk.” Mencoba mencari pembelaan.
Seusai Jalal membaca ayat terakhir, Jodha mengambil tangan Jalal dan menciumnya.
JO: “Subhanalla mas... suaramu memang indah, seindah nasihat Imron kepada puteranya.”
JA: “Kau sudah tahu istriku, bagus.... dan dewi aku ingin mulai besok hafalin surat ini, setiap hari kau harus setor pada mas, ngerti?.” Mengatakanya dengan wajah lempeng.
Yang diberi tugas hanya bisa melongo..”iyaaa” hanya jawaban itulah yang bisa diberikanya, Jalal pergi dari ruangan itu diikuti oleh Jodha...
Firasatnya ternyata benar, sewaktu awal Jalal membaca surat ini ia sudah punya pemikiran untuk menyuruhnya menghafal... ughhhhhh hari yang cerah namun tak secerah hati dewi hari ini.. niat hati ingin pergi jalan-jalan bersama Jodha sang kakak ipar, tapi yang didapat malah seharian penuh dia dipaksa menyimak murojaah Ikhwan Agra.. dan segala musibah pagi ini adalah karena ULAH GKM.. Ulah mereka yang suka menebar VIRUS kemana-mana... dengan tatapan sengit pada kamera dewi berkata..”Heiii kaliannnn Geng GKM, awasss yaaa kalian, tunggu pembalasanku, terutama engkau Leader Alfi begum.” **Kibas Duppatta**
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar